Rabu, 18 Maret 2009

Berita Pemilu 2009 Pemimpin Parpol Tak Dikenal Publik

Sosok pemimpin sejumlah partai, termasuk partai yang sudah ikut pemilu sejak 1999, ternyata relatif tidak dikenal publik. Hasil survei Indonesia Research Development Institute (IRDI) yang digelar pada 5-12 Juli lalu menunjukkan, sosok pemimpin sejumlah partai ini kalah terkenal dibanding senior masing-masing.

Hasil survei itu juga memperlihatkan bahwa publik tidak mengenal nama-nama parpol baru peserta Pemilu 2009. Tingkat ketidaktahuan ini bahkan mencapai 84,5 persen.

Survei IRDI dilakukan terhadap 2.600 responden yang tersebar di 33 provinsi dengan proporsi kota 57,3 persen dan desa 42,7 persen. Tingkat kepercayaan survei ini 95 persen dengan sampling error 1,9 persen.

Menurut hasil survei itu, tokoh-tokoh lama parpol jauh lebih dikenal publik ketimbang figur-figur yang secara faktual kini memimpin masing-masing parpol. Ketua Umum DPP PAN Soetrisno Bachir, misalnya, hanya dikenal 24,96 persen responden. Sebanyak 58,23 persen responden ternyata masih menganggap Amien Rais sebagai Ketua Umum DPP PAN. Padahal, Soetrisno sudah sangat intensif mengiklankan diri di media massa lewat slogan "hidup adalah perbuatan".

Tifatul Sembiring juga ternyata relatif tak dikenal publik sebagai pemimpin puncak Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Hanya 10,15 persen responden yang mengetahui Tifatul adalah Presiden PKS. Sementara 60,88 persen responden justru menyebut Presiden PKS adalah Hidayat Nur Wahid.

Ketua Umum PPP Suryadharma Ali (9,88 persen) dan Ketua Umum Partai Demokrat Hadi Utomo (10,58 persen) juga kalah populer dibanding Hamzah Haz dan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Sebanyak 62,15 persen responden menyatakan Hamzah Haz sebagai Ketua Umum PPP, dan 67,65 persen menyebut SBY sebagai Ketua Umum DPP Partai Demokrat.

Sementara Ketua Umum Partai Golkar Jusuf Kalla dan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri boleh berbangga hati. Publik mengenal betul bahwa mereka adalah ketua umum partai masing-masing. Mega meraih 80,58 persen dan Jusuf Kalla 43,58 persen.

Arbi Sanit, pengamat politik yang juga mantan Ketua KPU menilai, minimnya popularitas pemimpin partai politik dan rendahnya pengetahuan publik terhadap parpol-parpol baru karena belakangan ini banyak pemimpin partai yang lahir secara instan, tidak melalui proses pengaderan dari bawah sehingga mereka tidak dikenal oleh publik luas.

"Di Indonesia, umumnya orang memilih partai masih melihat figur, bukan konsep atau program partai sebagaimana yang terjadi di negara maju. Karena itu, partai yang dipimpin oleh figur terkenal akan mendapatkan suara signifikan. Sebaliknya partai yang dipimpin oleh figur yang tidak terkenal, tidak akan dipilih," kata Arbi. (Dikutip dari Suara Karya)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar